Bentangan Pegunungan Bukit Barisan
melintang di sepanjang Pulau Sumatera dengan posisi yang jauh lebih dekat ke pantai
barat. Kedudukannya di utara berbatasan dengan Karo, di timur laut
dengan Karo dan Simalungun, di timur dengan Simalungun dan Samosir, di Tenggara
dengan Samosir dan Humbang Hasundutan, di selatan dengan Humbang Hasundutan dan
Tapanuli Tengah (Manduamas yang sejajar dengan Barus), dan Aceh (termasuk
Singkil). Berbatasan juga mulai dari barat daya hingga barat laut adalah Aceh.
Sesungguhnya Tanah Dairi biasa juga disebut tanah pakpak sebab penduduk aslinya memang
orang Pakpak. Sejak tahun 2003 Dairi
sebagai kabupaten telah dipecah. Hasilnya adalah Kabupaten Pakpak Bharat di
belahan selatan. Dengan begitu wilayah Kabupaten Dairi yang semula sekitar
314.000 hektar kini kurang lebih tinggal separo. Setelah pemecahan ternyata sebutan Tanah Pakpak tadi masih saja jamak dipakai Wajar memang sebab penamaan tersebut sudah
sejak dahulukala Bukankah tak mudah
mengubah sebuah kebiasaan lama? Dalam kitab ini pun kedua sebutan masih akan
dipakai bergantian untuk mengacu hal yang sama
Ketinggian wilayah
kawasan ini 700-1.250 meter di atas permukaan laut (dpl). Sebagian kecil
kawasan sampai berketinggian 1.600 meter dpl. Sidikalang sendiri ibukota Dairi, berada di ketinggian 1.066
meter dpl. Iklim Dairi tanah pakpak Bukan berhawa panas dan lembab alias
tropis, melainkan di bawahnya. Bisa disebut subtropics Hasil alamnya yang khas pun becorak produk hutan pegunungan:
kapur barus, kemenyan, nilam, dan kopi, itu yang paling mashyur sejak dulu.
Belakangan ada gambir, kemiri, dan jagung dll.
Tanah pakpak sebenarnya sejak lama telah berhubungan dengan
dunia luar, termasuk mancanegara. Kontak itu memang tidak langsung, melainkan
lewat Barus, tetangga di selatan. Sudah sejak zaman prasejarah Barus termashyur
sebagai bandar internasional. Dan untuk ketersohoran tersebut, Tanah Pakpak
punya kontribusi besar. Sampai sekarang andilnya dalam catatan sejarah sungguh mencengangkan. Betapa tidak jika membahas sejarah dulu Barus dengan kebesaran
masa lalunya.
Barus masa lalu sebutan lainnya
Fansur (Arab) dan Pansur; (Batak;identik dengan dua hal, yakni kamper atau
kapur barus dan penyair mistik Hamzah Fansuri yang memang lama tinggal di sana.
Di antara keduanya kamperlah yang paling lekat dengan nama tempat ini; Dalam
pengetahuan umum kota kecil di pantai barat Sumatera inilah penghasil kamper yang paling tinggi mutunya dan paling murni
sifatnya.
Sejak lama, sebelum tarikh
Masehi, kamper yang di negeri kita bersebutan kapur barus telah menjadi
komoditas dunia. Barang ini dahulu bernilai tinggi, setara emas. Maksudnya satu
kilogram kamper bernilai tukar sekilogram emas. Mahal karena faedah atau
khasiatnya banyak. Penggunaannya yang jamak adalah di dunia pengobatan
(ketabiban dan kedokteran) serta keobatan (farmasi). Menurut kisah lawas, champor kapurbarus) menjadi salah
satu unsur ramuan yang dipakai dalam mengawetkan jasad penguasa Mesir (firaun)
terkemuka, Ramses II. Mummi raja yang berkuasa pada kurun tahun 1279-1213
sebelum Masehi tersebut telah dibawa ke Paris tahun 1974 untuk diperiksa.
Masalahnya hasil pembalseman tersebut (kini berada di Meseum Mesir) kian rusak
saja digerogoti jamur. Cerita lain menyebut salah satu wewangian yang dibawa kaum
Majus sebagai persembahan untuk bayi Yesus yang baru lahir di Betlehem
kapurbarus juga. Kemenyan disebut juga bagian dari seserahan mereka kala itu
hanya saja tak disebut dari mana asalnya.
Ihwal kapur dari Barus sudah ada
catatannya di awal tarikh Masehi. Salah satunya dibuat Claudius Ptolemaeus
(90-168) seorang Yunani Alexandria (Mesir) yang merupakan ahli astronomi,
astrologi, dan geografi terkemuka. Dalam karya akbarnya, Geographia ia menyebut Barousai penghasil kamper.
Kalaupun tak dicatat, di masa itu ihwal kapurbarus setidaknya sudah
dipercakapkan dalam pelbagai bahasa, termasuk Yunani, Syria, Cina, Tamil, Arab,
Armenia, Jawa, dan Melayu
Sejak abad ke-6 kapur dari Barus
dikenal di berbagai kawasan yang terbentang dari Cina ke Laut Tengah yang
memisahkan Eopa dengan Afrika. Sebab itu, catatan tentang komoditas ini pun
makin banyak. Tersebutlah catatan dari Dinasti Liang dari Cina selatan (abad
ke-6), I-tsing (tahun 692), Ibnu Chordhadhbeh (tahun 846), Marco Polo (tahun
1292), dan Ibnu Batutah (tahun 1345), misalnya. I-tsing adalah seorang rahib
Buddha yang sempat tinggal bertahun-tahun di Sriwijaya saat berziarah dari Cina
ke India. Marco Polo seorang pengelana
Italia yang sempat singgah di Pasai (Aceh). Ibnu Batutah orang Berber dari
Tangier (Afrika Utara). Dia; kemungkinan telah menjejak tanah Barus dalam
perjalananke pantai barat Sumatera.
Kendati telah banyak disebut,
sejauh itu belum jelas yang mana sebenarnya Barus, negeri sumber kamper yang
paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya itu. Tabir Barus sangat di perdebatkan dalam sejarahnya. Pelukisan oleh para penjelajah-penulis tadi tidaklah sama. Ptolemaeus,
misalnya, menggambarkan Barrous sebagai kawasan lima pulau. Penulis lain ada
yang menyebut lokasinya di Semenanjung Malaka. Di Aceh adanya, tulis yang lain Perujuk Barus sekarang memang ada juga. Jauh dari sinkron informasi mereka; simpang
siur jadinya. Kekarut-marutan penggambaran ini tentu mudah kita pahami. Pada masa I-tsing, Ibnu Chordhadhbeh, Marco Polo,
atau Ibnu Batutah pengetahuan geografis orang masih sangat terbatas sebab
pelayaran lintas benua masih sangat sedikit dan teknologi navigasi masih begitu
sederhana. Apalagi di masa Ptolemaeus.
Kesimpangsiuran ini berlangsung
lama. Bahkan, hingga sekarang pun masih ada ahli yang meragukan bahwa Barus
sekaranglah yang dirujuk sebagai sumber
kamper yang paling tinggi mutunya dan
paling murni sifatnya itu. Dasar keraguan
mereka ada beberapa. Pertama, sejak dulu kamper tak hanya datang dari Barus
sekarang, tapi juga dari Borneo (Kalimantan), Semenanjung Malaka, dan Jepang.
Sebagai catatan, kamper sebuah bahan keras, bisa berupa pasirmerupakan hasil
oksidasi minyak yang terdapat dalam
sel-sel khusus yg mengeluarkan bahan ini. Sel-sel ini terdapat di semua bagian pohonnya.
Terdapat dua jenis kamper dari keluarga
berbeda Dryobalanops aromatica Gaertn
dari keluarga Dipterocarpaceae mengasilkan
kapur Borneo dan ( Cinnamonum camphora (L.), Nees, dan Ebern dari keluarga
Lauraceae atau kamper Jepang. Jenis pertama ini jauh lebih bernilai secara
ekonomis. Hanya setelah kamper hasil pabrikan muncullah nilainya merosot tajam.
Kalau saja sosok kejayaan masa
lalu masih jelas tampak di Barus, sekarang tabir gelap tadi tak perlu begitu
lama menggantung. Realitasnya, Barus sekarang yang tercakup dalam Kabupaten
Tapanuli Tengah dalam penampakannya di permukaan begitu bersahaja dan terisolasi. Kecuali makam-makam Islam dari
sekitar abad ke-14, kawasan ini hampir tak menyisakan artefak dari sebuah
bandar internasional masa kuno. Inilah dasar keraguan kedua. Begitupun, di
tengah kesimpangsiuran informasi ihwal Barus yang menjadi sumber kamper
terbaik, ada satu hal yang akhirnya disepakati banyak ahli. Yaitu kata;kamper; berasal dari rumpun bahasa
Austronesia. Jadi kemungkinan besar asal komoditas ini adalah kawasan di
Nusantara.
Sejak abad ke-16 mulai lebih
terang sebenarnya bahwa Barus sekaranglah sumber kamper terbaik yang
diapresiasi dunia itu. Tapi kawasan ini sendiri ternyata hanya bandar penampung
saja, bukan penghasil
Tom Pires, seorang musafir
Portugis, di awal abad ke-16 mendeskripsikan Barus lebih jelas. Ia menyebut
negeri ini sangat kaya, kemana pedagang India dan Arab datang langsung untuk
mencari damar (kamper dan kemenyan). Barus yang saat itu berhungan dekat dengan
Minangkabau, menurut dia, dinamakan juga Panchur atau Pansur.Orang Gujarat menamakannya
Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatra namanya
Baros (Baruus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua; tulis dia.
Barus, lanjut Tom Pires, telah
lama berdagang dengan negeri Pakpak. Hasil bumi berupa kamper dan kemenyan yang
dijual di Barus, lanjut dia, didatangkan dari pedalaman. Yang dimaksud dengan
pedalaman tentu saja tanah Pakpak yang kala itu setidaknya mencakup Manduamas,
Pakkat, dan Parlilitan.
Catatan yang lebih pasti ihwal Barus
baru ada sejak Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) menempatkan
perwakilannya di sana. Dalam laporan VOC di abad ke-17 disebut pohon kapur
barus dan kemenyan terdapat di daerah perbukitan di antara tanah pantai yang
datar dan dataran tinggi Toba. Di daerah
terjal ini damar dipungut oleh berbagai kelompok Batak dan diangkut oleh mereka
ke tepi laut, terkadang melalui beberapa daerah lain dulu. Di pantai damar
dipertukarkan dengan bahan keperluan mereka seperti kain, besi, dan garam demikian catatan VOC . Di sini yang dimaksud
VOC dengan Batak tentu tidak hanya Toba.
Sekitar abad ke-17 itu, menurut
catatan VOC tadi, yang menjadi penduduk Barus adalah orang Melayu, Batak, dan
etnik Nusantara lain termasuk Aceh. Orang Melayu dimaksud banyak dari
Minangkabau dan pelabuhan-pelabuhan yang lebih selatan. Sedangkan orang Batak
yang disebut adalah mereka yang sudah merantau ke pantai dan yang sudah
kawin-mawin dengan orang setempat. Masih menurut catatan tadi, saat VOC hendak
menjalin hubungan dengan penguasa lokal tahun 1668 barulah mereka tahu bahwa
Barus diperintah oleh dua raja yakni Raja di Hulu (campuran Batak-Melayu) dan
Raja di Hilir (campuran Melayu dari Terusan, Sumatera Barat). Raja di Hulu
menjalin hubungan khusus dengan masyarakat Pakpak yang memungut kamper di Barus barat laut dan
pedalamannya. Sedangkan Raja di Hilir berpengaruh besar terhadap orang Batak di
Pasaribu dan Silindung yang memungut kemenyan di perbukitan di Barus timur laut
serta di pedalaman Sorkam dan Korlang.
Sampai abad ke-19 Barus masih
menjadi penyalur utama kamper dari tanah Dairi. Para pedagang di Barus membeli
komoditas ini dari para petani dan pengumpul yang datang dari pedalaman Sungai dan jalan setapak menjadi jalur para
pengumpul.
Dalam skala yang lebih kecil
Singkil juga penampung kapurbarus dan hasil bumi Dairi lainnya Diwilayah Singkil, pangkalan di sepanjang
aliran sungai yang berhulu di tanah Pakpak menjadi tempat transaksi. Para
petani dari pedalaman datang ke sana membawa kamper, kemenyan dan yang lain untuk ditukar dengan garam, kain, tembakau
Cina, opium, dan aneka barang dari besi. Pada abad ke-19 terdapat sejumlah
pangkalan di Boven Singkel (Singkil Atas) yakni Sinundang, Kumbi, dan Puge di Batang Sinundang
Traju, Pulau Melang, dan Bruntungan
Kambing di Batang Sulambi Panggalan dan Silak di Batang Kumbi, Panuntungan dan
Belegen di Batang Belegen, Angkat dan Sarah di Batang Batu-batu, serta Biski di
Batang Biski.
Selain ke Barus dan Singkil
kamper dan kemenyan dari tanah Pakpak juga masuk ke pelabuhan pantai barat lainnya
yakni Tapian Na Uli (Sibolga), Natal dan Air Bangis. Kedua komoditas ini
menjadi barang ekspor utama bandar-bandar tersebut hingga pertengahan abad
ke-19. Khusus kemenyan sumbernya ada beberapa selain tanah Pakpak. Tanah Toba
salah satunya.
Jelaslah, tanah Dairi yang
menjadi sumber kamper andalan bandar-bandar pantai barat Sumatera sejak lama.
Juga sebagai kemenyan terbaik. Tidak heran kalau di masa Hindia Belanda kawasan
di pedalaman Barus dan Singkil ini dinamai Kamfergebied (sentra kamper) dan Benzoegebiet.
Dalam hikayat pakpak Keberuen merupakan sebutan umum orang Pakpak untuk
kapurbarus. Adapun proses mengambil damar ini mereka sebut merteddung martodung Masyarakat lama Dairi berikatan batin erat
dengan hasil hutan yang satu ini.
Bukan sembarang komoditas keberuen ini bagi mereka. Sebab itu proses pencariannya pun
pakai aturan main atau syarat baku. Tidak setiap pohon kapurbarus menghasilkan
kapur. Tak jarang rombongan pencari yang sampai berbulan-bulan masuk hutan
akhirnya pulang berhampa tangan. Jadi peruntungan juga menentukan. Agar pencarian
lebih efisien rombongan biasanya membawa serta pawang. Sang pawanglah yang
memimpin prosesi nanti dan memandu para
pencari. Jadi selain kapurbarus, sejak lama juga tanah Dairi dikenal sebagai
penghasil pawang kapur barus.
Kerekatan Dairi dengan kamper
melebihi wilayah manapun di Republik
ini. Bukti kerekatan ini adalah adanya koleksi cerita orang Pakpak yang berkait dengan
kapurbarus. Misalnya hikayat pasangan Pak-Edag-Pak-Edog dan Nan Tartar-Nan
Tortor serta hikayat Simbuyak-mbuyak.
Hikayat pertama ihwal cekcok
suami-isteri. Suatu hari, merasa suaminya ingkar janji Nan Tartar-Nan Tortor
pun minggat dari rumah. Sang suami, Pak-Edag-Pak-Edog, pusing tujuh keliling
setelah isterinya raib. Suatu malam ia bermimpi bahwa isterinya bersembunyi di
dalam sebatang pohon kapurbarus. Segera ia bertindak. Diambilnya tongkat dan
diketoknya setiap pohon kapurbarus yang ia temui di hutan. Benar, Nan
Tartar-Nan Tortor ada di dalam pohon. Masalahnya perempuan itu selalu berpindah
ke pohon kamper lain saban didekati. Pak-Edag-Pak-Edog tak kenal lelah. Tongkat
terus ia pukulkan. Alhasil bunyi ketokan tongkatnya pun menggema di rimba raya:
pakpak edag-edog... pakpak edag-edog... pakpak edag-edog... Pendek cerita, hati
isterinya kemudian melunak sehingga mereka pulang happy endingYang mau
dikatakan hikayat ini: sejak bunyi menggema di hutan itulah sebutan orang
Pakpak diberikan kepada masyarakat yang satu ini yang memang sejak berabad-abad
terkenal sebagai pencari ulung kapurbarus.
Tanah Pakpak terdiri dari lima
suak atau kelompok berdasarkan kedekatan wilayah, sosial dan ekonomi. Suak itu
adalah Simsim, di kawasan Salak,
Kerajaan, Sitellu Tali Urang Julu, Sitellu Tali Urang Jehe Keppas, di kitaran Sitellu Nempu, Siempat
Nempu, Silima Pungga-pungga, Lae Luhung (Lae Mbereng) dan Perbuluhen Pegagan
dan Karo Kampung, di sekitar Pegagan Jehe, Silalahi, Paropo, Tongging (Sitolu
Huta) dan Tanah Pinem Boang, di lingkup Simpang Kanan, Simpang Kiri, Lipat
Kajang, dan Singkil dan Kelasan, meliputi wilayah Sienem Koden, Manduamas, dan
Barus.
Orang Pakpak juga bermarga Di
lingkup Suak Simsim terdapat sejumlah
marga antara lain Banurea, Beringin, Berutu, Boangmanalu, Cibero, Kebeaken,
Lembeng, Manik, Padang, Sinamo, Sitakar, Sitendang, dan Solin. Di Suak Keppas:
Angkat, Bako, Berampu, Bintang, Capah, Gajah Manik, Kudadiri, Maha, Pasi, Sambo,
Saraan, dan Ujung. Di Suak Pegagan: Cupak atau Kecupak, Kaloko, Lingga, Manik,
Matanari, dan Simaibang. Di Suak Boang:
Bancin, Berutu, Lembeng, dan Pohan. Sedangkan di Suak Kelasan: Anakampun,
Berasa, Gajah, Kesogihen, Maharaja, Meka, Mungkur, Sikettang, Tinambunen,
Tumangger, dan Turuten.
Kata pakpak dalam bahasa Pakpak bermakna tinggi.
Bisa jadi karena berdiam di dataran tinggi atau pegunungan maka masyarakatnya
dirujuk sebagai orang Pakpak. Sejauh ini selain hasil telusuran berdasar asal-usul
kata etimologi ada juga tafsir pakpak versi lain Ada yang mengatakan kata ini
berasal dari wakwak kata
ini masih di perdebatkan sebutan ala negeri abunawas.
Ada pula yang menyebut pakpak berasal
dari nama orang. Alkisah, tiga pemuda bersahabat karib bertolak dari Singkil.
Nama mereka adalah si Gayo, si Karo, dan si Pakpak. Pemuda Gayo melangkah
mengikuti sungai Kali Alas. Ia tiba di tanah Gayo. Melanjut ke Kutacane dia dan
mentap selamanya. Pemuda Karo mengikuti Lae Ulun dan tiba di tanah Karo. Di
sana ia tinggal permanen. Adapun pemuda Pakpak, ia mengikuti Lae Renun dan
sampai di Pegagan Hilir. Di sana ia bergabung dengan penduduk asli dan
membentuk perkampungan. Seperti kedua sobatnya ia pun menjadi migran yang
berdiam menetap. Namanya kemudian diabadikan untuk seluruh kawasan.
Sudah ada tiga tafsir tentang muasal
kata pakpak Lantas orang Pakpak sendiri
dari mana berasal? Seperti halnya asal-usul seluruh etnik atau sub-etnik lain
di Republik ini, yang satu ini pun belum jelas betul. Aneka macam versinya.
Secara umum, sejak zaman Belanda, oleh para etnolog orang Pakpak digolongkan ke
dalam etnik Batak. Jadi sama seperti orang
Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Angkola. Adanya sejumlah unsur
kedekatan atau kesamaan misalnya dalam struktur sosial, sistem budaya, dan
bahasa puak ini satu sama lain menjadi dasar penggolongan Uli Kozok misalnya, menyatakan keenam puak ini memiliki
bahasa yang satu sama lain banyak kesamaannya. Merujuk para ahli bahasa ia
menyebut bahasa Angkola, Mandailing, dan Toba membentuk rumpun selatan;
sedangkan bahasa Karo dan Pakpak-Dairi termasuk rumpun utara. Ihwal Bahasa Simalungun
ada dua pendapat. Berdiri di antara rumpun utara dan selatan, begitu satu
pendapat. Merupakan cabang dari rumpun selatan yang kemudian terpisah sebelum
bahasa Toba dan bahasa Angkola-Mandailing terbentuk, kata pendapat lain.
Pernyataan bahwa
Pakpak bukan Batak sangatlah jelas, terlepas dari sejumlah unsur kesamaan tadi. Menurut
pemegang pendapat ini (umumnya mereka orang Pakpak) sebagai etnik Pakpak lebih
tua dari Toba yang selama ini mengkleim sebagai leluhur segenap puak Batak.
Diskleim senada tadinya cuma dari Mandailing. Belakangan orang Karo dan
Simalungun pun kian banyak menyangkal
diri Batak. Lama-lama bisa Toba belaka yang menyebut diri Batak. Tentu para
etnologlah yang punya otoritas untuk
menimbang kebenaran kleim atau diskleim ini.
Mereka yang menyatakan Pakpak
lebih tua dari Toba merujuk pada folklor lokal dan benda-benda budaya dari
zaman Hindu (di antaranya mejan patung
orang menunggang gajah atau harimau, terbuat dari batu) yang sampai kini bisa
ditemukan di tanah Pakpak untuk menguatkan argumennya.
Kendati tak tak memiliki mitologi
lengkap yang mencakup ihwal penciptaan dunia dan manusia pertama, orang Pakpak mempunyai folklor tentang lintasan
peradabannya. Menurut folklor ini Pakpak mengenal lima zaman yakni
Similangilang, Sintuara, Sihaji, Hindu, dan Pemimpin. Keterangannya berikut ini
- ü Zaman Similangilang Pada masa ini orang belum tinggal menetap atau masih nomaden. Berburu binatang merupakan pekerjaan utama mereka.
- ü Zaman Sintuara Mereka sudah mulai bermukim tapi kerap berpindah. Kalau ada anggota kelompok yang meninggal mereka akan berpindah sebab kematian dianggap kesialan yang harus dihindari
- ü Zaman Sihaji. Seperti masa sekarang, di masa ini kelompok sudah menetap secara permanen di satu tempat. Mereka sudah mulai berdagang tapi belum menggunakan mata uang. Jadi masih berbarter. Mitra dagang mereka termasuk orang asing (Portugis, Mesir, dan India). Berbagai barang dari luar negeri sudah masuk di antaranya koden loyang (periuk), kalakati (alat pengupas pinang), sulapah tempat sirih), pinggan pasu (piring pinggan), gabus (ikat pinggang), dan borgot.
- ü Zaman Hindu Ini sezaman dengan kerajaan Sriwijaya. Berarti abad ke-6 sampai ke-12.
- ü Awal mula Sejak Islam merebak di tanah Pakpak.
Kepastian folklor ini mengandung
kebenaran faktual memang benar orang Pakpak lebih tua dari orang Toba. Jalan
pikirannya, bandingkanlah folklor kedua puak. Menurut tambo orang Toba, manusia
Batak pertama adalah Si Raja Batak. Segenap orang Batak sekarang adalah
keturunannya. Dari Si Raja Batak hingga angkatan kanak-kanak Toba sekarang
paling ada belasan generasi. Satu generasi katakanlah 70 tahun. Jadi masa sejak Si Raja Batak hingga masa sekarang
baru paling 1.500 tahun (asumsinya orang Toba telah 20 generasi lebih). Berarti
baru setara era Hindu menurut folklor Pakpak tadi Masih jauh dari zaman Similangilang
Begitulah kalau kita membandingkan folklor. Masalahnya, folklor tidak bisa
dijadikan penakar tahun. Namanya juga cerita rakyat atau sahibul hikayat berbiaknya
dari mulut ke mulut.
Jejak kebudayaan Hindu sampai
sekarang masih tampak jelas di tanah Pakpak. Mejan salah satunya. Lainnya adalah benda yang
tadi disebut dari zaman Sihaji koden Loyang sulapahpinggan pasu gabus dan
borgot Jejak ini menjadi pertanda bahwa
sebagai etnik Pakpak memang sudah tua.
Tanah Pakpak memang sejak lama
berada dalam medan pengaruh pelbagai kebudayaan besar. Kedekatannya dengan Aceh
dan Barus menjadi penyebabnya. Setelah Hindu, kebudayaan Islam dan Kristen
merembes deras ke kawasan ini.
Islam sudah lama hadir di tanah
Pakpak. Kemungkin besar imbas dari; kebertetanggaannya dengan Aceh di utara dan
Barus di selatan. Orang Pakpak yang pertama mendalami Islam secara intens
adalah. Sjech Abdurrauf al-Singkili. Dia pernah belajar agama di Pasai (Aceh) dan
tanah Arab. Namun pengislaman secara serius dan sistematis barulah oleh Tengku
Telaga Mekar dari Gayo Pengikutnya menjadi unsur pasukan Slimin yang berjuang
melawan Belanda kelak. Gelombang pengislaman berikutnya mengalun di masa Guru
Gindo Sekitar tahun 1926 sang guru
bertolak dari kampungnya di Sumatera Barat untuk mengembangkan siar Islam.
Lewat Singkil dan Runding akhirnya ia tiba Sidikalang Di ibukota ini
sejumlah berhasil ia Islam-kan termasuk
dari marga Angkat Bintang dan Ujung dan marga lainnya.
(dari berbagai sumber dan dairi dalam kilatan sejarah )


Tidak ada komentar:
Posting Komentar