Senin, 23 Februari 2015

SEJARAH SUKU PAKPAK DI SUMATERA UTARA


Bentangan Pegunungan Bukit Barisan melintang di sepanjang Pulau Sumatera dengan posisi yang jauh lebih dekat ke pantai barat. Kedudukannya  di utara berbatasan dengan Karo, di timur laut dengan Karo dan Simalungun, di timur dengan Simalungun dan Samosir, di Tenggara dengan Samosir dan Humbang Hasundutan, di selatan dengan Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah (Manduamas yang sejajar dengan Barus), dan Aceh (termasuk Singkil). Berbatasan juga mulai dari barat daya hingga barat laut adalah Aceh.
Sesungguhnya Tanah Dairi biasa juga disebut tanah pakpak sebab penduduk aslinya memang orang Pakpak. Sejak  tahun 2003 Dairi sebagai kabupaten telah dipecah. Hasilnya adalah Kabupaten Pakpak Bharat di belahan selatan. Dengan begitu wilayah Kabupaten Dairi yang semula sekitar 314.000 hektar kini kurang lebih tinggal  separo. Setelah pemecahan ternyata sebutan  Tanah Pakpak tadi masih saja jamak dipakai  Wajar memang sebab penamaan tersebut sudah sejak dahulukala Bukankah tak mudah mengubah sebuah kebiasaan lama? Dalam kitab ini pun kedua sebutan masih akan dipakai bergantian untuk mengacu hal yang sama
Ketinggian wilayah kawasan ini 700-1.250 meter di atas permukaan laut (dpl). Sebagian kecil kawasan sampai berketinggian 1.600 meter dpl. Sidikalang sendiri  ibukota Dairi, berada di ketinggian 1.066 meter dpl. Iklim Dairi tanah pakpak  Bukan berhawa panas dan lembab alias tropis, melainkan di bawahnya. Bisa disebut subtropics  Hasil alamnya yang  khas pun becorak produk hutan pegunungan: kapur barus, kemenyan, nilam, dan kopi, itu yang paling mashyur sejak dulu. Belakangan ada gambir, kemiri, dan jagung dll.
Tanah pakpak  sebenarnya sejak lama telah berhubungan dengan dunia luar, termasuk mancanegara. Kontak itu memang tidak langsung, melainkan lewat Barus, tetangga di selatan. Sudah sejak zaman prasejarah Barus termashyur sebagai bandar internasional. Dan untuk ketersohoran tersebut, Tanah Pakpak punya kontribusi besar. Sampai sekarang andilnya dalam catatan sejarah sungguh mencengangkan. Betapa tidak jika membahas sejarah dulu Barus dengan kebesaran masa lalunya.
Barus masa lalu sebutan lainnya Fansur (Arab) dan Pansur; (Batak;identik dengan dua hal, yakni kamper atau kapur barus dan penyair mistik Hamzah Fansuri yang memang lama tinggal di sana. Di antara keduanya kamperlah yang paling lekat dengan nama tempat ini; Dalam pengetahuan umum kota kecil di pantai barat Sumatera inilah penghasil kamper  yang paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya.
Sejak lama, sebelum tarikh Masehi, kamper yang di negeri kita bersebutan kapur barus telah menjadi komoditas dunia. Barang ini dahulu bernilai tinggi, setara emas. Maksudnya satu kilogram kamper bernilai tukar sekilogram emas. Mahal karena faedah atau khasiatnya banyak. Penggunaannya yang jamak adalah di dunia pengobatan (ketabiban dan kedokteran) serta keobatan (farmasi). Menurut  kisah lawas, champor kapurbarus) menjadi salah satu unsur ramuan yang dipakai dalam mengawetkan jasad penguasa Mesir (firaun) terkemuka, Ramses II. Mummi raja yang berkuasa pada kurun tahun 1279-1213 sebelum Masehi tersebut telah dibawa ke Paris tahun 1974 untuk diperiksa. Masalahnya hasil pembalseman tersebut (kini berada di Meseum Mesir) kian rusak saja digerogoti jamur. Cerita lain menyebut salah satu wewangian yang dibawa kaum Majus sebagai persembahan untuk bayi Yesus yang baru lahir di Betlehem kapurbarus juga. Kemenyan disebut juga bagian dari seserahan mereka kala itu hanya saja tak disebut dari mana asalnya.
Ihwal kapur dari Barus sudah ada catatannya di awal tarikh Masehi. Salah satunya dibuat Claudius Ptolemaeus (90-168) seorang Yunani Alexandria (Mesir) yang merupakan ahli astronomi, astrologi, dan geografi terkemuka. Dalam karya akbarnya,  Geographia  ia menyebut Barousai penghasil kamper. Kalaupun tak dicatat, di masa itu ihwal kapurbarus setidaknya sudah dipercakapkan dalam pelbagai bahasa, termasuk Yunani, Syria, Cina, Tamil, Arab, Armenia, Jawa, dan Melayu
Sejak abad ke-6 kapur dari Barus dikenal di berbagai kawasan yang terbentang dari Cina ke Laut Tengah yang memisahkan Eopa dengan Afrika. Sebab itu, catatan tentang komoditas ini pun makin banyak. Tersebutlah catatan dari Dinasti Liang dari Cina selatan (abad ke-6), I-tsing (tahun 692), Ibnu Chordhadhbeh (tahun 846), Marco Polo (tahun 1292), dan Ibnu Batutah (tahun 1345), misalnya. I-tsing adalah seorang rahib Buddha yang sempat tinggal bertahun-tahun di Sriwijaya saat berziarah dari Cina ke India. Marco Polo seorang  pengelana Italia yang sempat singgah di Pasai (Aceh). Ibnu Batutah orang Berber dari Tangier (Afrika Utara). Dia; kemungkinan telah menjejak tanah Barus dalam perjalananke pantai barat Sumatera.
Kendati telah banyak disebut, sejauh itu belum jelas yang mana sebenarnya Barus, negeri sumber kamper yang paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya  itu. Tabir Barus sangat di perdebatkan dalam sejarahnya. Pelukisan oleh para penjelajah-penulis tadi tidaklah sama. Ptolemaeus, misalnya, menggambarkan Barrous sebagai kawasan lima pulau. Penulis lain ada yang menyebut lokasinya di Semenanjung Malaka. Di Aceh adanya, tulis yang lain  Perujuk Barus sekarang memang ada juga.  Jauh dari sinkron informasi mereka; simpang siur jadinya. Kekarut-marutan penggambaran  ini tentu mudah kita pahami. Pada  masa I-tsing, Ibnu Chordhadhbeh, Marco Polo, atau Ibnu Batutah pengetahuan geografis orang masih sangat terbatas sebab pelayaran lintas benua masih sangat sedikit dan teknologi navigasi masih begitu sederhana. Apalagi di masa Ptolemaeus.
Kesimpangsiuran ini berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang pun masih ada ahli yang meragukan bahwa Barus sekaranglah yang dirujuk sebagai  sumber kamper  yang paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya  itu. Dasar keraguan mereka ada beberapa. Pertama, sejak dulu kamper tak hanya datang dari Barus sekarang, tapi juga dari Borneo (Kalimantan), Semenanjung Malaka, dan Jepang. Sebagai catatan, kamper sebuah bahan keras, bisa berupa pasirmerupakan hasil oksidasi minyak yang  terdapat dalam sel-sel khusus yg mengeluarkan bahan ini. Sel-sel  ini terdapat di semua bagian pohonnya. Terdapat dua  jenis kamper dari keluarga berbeda  Dryobalanops aromatica Gaertn dari keluarga Dipterocarpaceae  mengasilkan kapur Borneo dan ( Cinnamonum camphora (L.), Nees, dan Ebern dari keluarga Lauraceae atau kamper Jepang. Jenis pertama ini jauh lebih bernilai secara ekonomis. Hanya setelah kamper hasil pabrikan muncullah nilainya merosot tajam.
Kalau saja sosok kejayaan masa lalu masih jelas tampak di Barus, sekarang tabir gelap tadi tak perlu begitu lama menggantung. Realitasnya, Barus sekarang yang tercakup dalam Kabupaten Tapanuli Tengah dalam penampakannya di permukaan begitu bersahaja dan  terisolasi. Kecuali makam-makam Islam dari sekitar abad ke-14, kawasan ini hampir tak menyisakan artefak dari sebuah bandar internasional masa kuno. Inilah dasar keraguan kedua. Begitupun, di tengah kesimpangsiuran informasi ihwal Barus yang menjadi sumber kamper terbaik, ada satu hal yang akhirnya disepakati banyak ahli. Yaitu  kata;kamper; berasal dari rumpun bahasa Austronesia. Jadi kemungkinan besar asal komoditas ini adalah kawasan di Nusantara.
Sejak abad ke-16 mulai lebih terang sebenarnya bahwa Barus sekaranglah sumber kamper terbaik yang diapresiasi dunia itu. Tapi kawasan ini sendiri ternyata hanya bandar penampung saja, bukan penghasil
Tom Pires, seorang musafir Portugis, di awal abad ke-16 mendeskripsikan Barus lebih jelas. Ia menyebut negeri ini sangat kaya, kemana pedagang India dan Arab datang langsung untuk mencari damar (kamper dan kemenyan). Barus yang saat itu berhungan dekat dengan Minangkabau, menurut dia, dinamakan juga  Panchur atau Pansur.Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatra namanya Baros (Baruus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua; tulis dia.
Barus, lanjut Tom Pires, telah lama berdagang dengan negeri Pakpak. Hasil bumi berupa kamper dan kemenyan yang dijual di Barus, lanjut dia, didatangkan dari pedalaman. Yang dimaksud dengan pedalaman tentu saja tanah Pakpak yang kala itu setidaknya mencakup Manduamas, Pakkat, dan Parlilitan.
Catatan yang lebih pasti ihwal Barus baru ada sejak Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) menempatkan perwakilannya di sana. Dalam laporan VOC di abad ke-17 disebut pohon kapur barus dan kemenyan terdapat di daerah perbukitan di antara tanah pantai yang datar dan dataran tinggi Toba.  Di daerah terjal ini damar dipungut oleh berbagai kelompok Batak dan diangkut oleh mereka ke tepi laut, terkadang melalui beberapa daerah lain dulu. Di pantai damar dipertukarkan dengan bahan keperluan mereka seperti kain, besi, dan garam  demikian catatan VOC . Di sini yang dimaksud VOC dengan Batak tentu tidak hanya Toba.
Sekitar abad ke-17 itu, menurut catatan VOC tadi, yang menjadi penduduk Barus adalah orang Melayu, Batak, dan etnik Nusantara lain termasuk Aceh. Orang Melayu dimaksud banyak dari Minangkabau dan pelabuhan-pelabuhan yang lebih selatan. Sedangkan orang Batak yang disebut adalah mereka yang sudah merantau ke pantai dan yang sudah kawin-mawin dengan orang setempat. Masih menurut catatan tadi, saat VOC hendak menjalin hubungan dengan penguasa lokal tahun 1668 barulah mereka tahu bahwa Barus diperintah oleh dua raja yakni Raja di Hulu (campuran Batak-Melayu) dan Raja di Hilir (campuran Melayu dari Terusan, Sumatera Barat). Raja di Hulu menjalin hubungan khusus dengan masyarakat Pakpak yang  memungut kamper di Barus barat laut dan pedalamannya. Sedangkan Raja di Hilir berpengaruh besar terhadap orang Batak di Pasaribu dan Silindung yang memungut kemenyan di perbukitan di Barus timur laut serta di  pedalaman Sorkam dan  Korlang.
Sampai abad ke-19 Barus masih menjadi penyalur utama kamper dari tanah Dairi. Para pedagang di Barus membeli komoditas ini dari para petani dan pengumpul yang datang dari pedalaman  Sungai dan jalan setapak menjadi jalur para pengumpul.
Dalam skala yang lebih kecil Singkil juga penampung kapurbarus dan hasil bumi Dairi lainnya  Diwilayah Singkil, pangkalan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di tanah Pakpak menjadi tempat transaksi. Para petani dari pedalaman datang ke sana membawa kamper, kemenyan dan yang lain  untuk ditukar dengan garam, kain, tembakau Cina, opium, dan aneka barang dari besi. Pada abad ke-19 terdapat sejumlah pangkalan di Boven Singkel (Singkil Atas) yakni  Sinundang, Kumbi, dan Puge di Batang Sinundang  Traju, Pulau Melang, dan Bruntungan Kambing di Batang Sulambi Panggalan dan Silak di Batang Kumbi, Panuntungan dan Belegen di Batang Belegen, Angkat dan Sarah di Batang Batu-batu, serta Biski di Batang Biski.
Selain ke Barus dan Singkil kamper dan kemenyan dari tanah Pakpak  juga masuk ke pelabuhan pantai barat lainnya yakni Tapian Na Uli (Sibolga), Natal dan Air Bangis. Kedua komoditas ini menjadi barang ekspor utama bandar-bandar tersebut hingga pertengahan abad ke-19. Khusus kemenyan sumbernya ada beberapa selain tanah Pakpak. Tanah Toba salah satunya.
Jelaslah, tanah Dairi yang menjadi sumber kamper andalan bandar-bandar pantai barat Sumatera sejak lama. Juga sebagai kemenyan terbaik. Tidak heran kalau di masa Hindia Belanda kawasan di pedalaman Barus dan Singkil ini dinamai Kamfergebied  (sentra kamper) dan Benzoegebiet.
Dalam hikayat pakpak Keberuen  merupakan sebutan umum orang Pakpak untuk kapurbarus. Adapun proses mengambil damar ini mereka sebut  merteddung  martodung  Masyarakat lama Dairi berikatan batin erat dengan hasil hutan yang satu ini.
Bukan sembarang komoditas  keberuen  ini  bagi mereka. Sebab itu proses pencariannya pun pakai aturan main atau syarat baku. Tidak setiap pohon kapurbarus menghasilkan kapur. Tak jarang rombongan pencari yang sampai berbulan-bulan masuk hutan akhirnya pulang berhampa tangan. Jadi peruntungan juga menentukan. Agar pencarian lebih efisien rombongan biasanya membawa serta pawang. Sang pawanglah yang memimpin prosesi  nanti dan memandu para pencari. Jadi selain kapurbarus, sejak lama juga tanah Dairi dikenal sebagai penghasil pawang kapur barus.
Kerekatan Dairi dengan kamper melebihi  wilayah manapun di Republik ini. Bukti kerekatan ini adalah adanya koleksi  cerita orang Pakpak yang berkait dengan kapurbarus. Misalnya hikayat pasangan Pak-Edag-Pak-Edog dan Nan Tartar-Nan Tortor  serta hikayat Simbuyak-mbuyak.
Hikayat pertama ihwal cekcok suami-isteri. Suatu hari, merasa suaminya ingkar janji Nan Tartar-Nan Tortor pun minggat dari rumah. Sang suami, Pak-Edag-Pak-Edog, pusing tujuh keliling setelah isterinya raib. Suatu malam ia bermimpi bahwa isterinya bersembunyi di dalam sebatang pohon kapurbarus. Segera ia bertindak. Diambilnya tongkat dan diketoknya setiap pohon kapurbarus yang ia temui di hutan. Benar, Nan Tartar-Nan Tortor ada di dalam pohon. Masalahnya perempuan itu selalu berpindah ke pohon kamper lain saban didekati. Pak-Edag-Pak-Edog tak kenal lelah. Tongkat terus ia pukulkan. Alhasil bunyi ketokan tongkatnya pun menggema di rimba raya: pakpak edag-edog... pakpak edag-edog... pakpak edag-edog... Pendek cerita, hati isterinya kemudian melunak sehingga mereka pulang happy endingYang mau dikatakan hikayat ini: sejak bunyi menggema di hutan itulah sebutan orang Pakpak diberikan kepada masyarakat yang satu ini yang memang sejak berabad-abad terkenal sebagai pencari ulung kapurbarus.
Tanah Pakpak terdiri dari lima suak atau kelompok berdasarkan kedekatan wilayah, sosial dan ekonomi. Suak itu adalah  Simsim, di kawasan Salak, Kerajaan, Sitellu Tali Urang Julu, Sitellu Tali Urang Jehe  Keppas, di kitaran Sitellu Nempu, Siempat Nempu, Silima Pungga-pungga, Lae Luhung (Lae Mbereng) dan Perbuluhen Pegagan dan Karo Kampung, di sekitar Pegagan Jehe, Silalahi, Paropo, Tongging (Sitolu Huta) dan Tanah Pinem Boang, di lingkup Simpang Kanan, Simpang Kiri, Lipat Kajang, dan Singkil dan Kelasan, meliputi wilayah Sienem Koden, Manduamas, dan Barus.
Orang Pakpak juga bermarga Di lingkup Suak  Simsim terdapat sejumlah marga antara lain Banurea, Beringin, Berutu, Boangmanalu, Cibero, Kebeaken, Lembeng, Manik, Padang, Sinamo, Sitakar, Sitendang, dan Solin. Di Suak Keppas: Angkat, Bako, Berampu, Bintang, Capah, Gajah Manik, Kudadiri, Maha, Pasi, Sambo, Saraan, dan Ujung. Di Suak Pegagan: Cupak atau Kecupak, Kaloko, Lingga, Manik, Matanari, dan Simaibang. Di  Suak Boang: Bancin, Berutu, Lembeng, dan Pohan. Sedangkan di Suak Kelasan: Anakampun, Berasa, Gajah, Kesogihen, Maharaja, Meka, Mungkur, Sikettang, Tinambunen, Tumangger, dan Turuten.
Kata  pakpak dalam bahasa Pakpak bermakna tinggi. Bisa jadi karena berdiam di dataran tinggi atau pegunungan maka masyarakatnya dirujuk sebagai orang Pakpak. Sejauh ini selain hasil telusuran berdasar asal-usul kata etimologi ada juga tafsir pakpak versi lain Ada yang mengatakan kata ini berasal dari  wakwak  kata  ini masih di perdebatkan sebutan ala  negeri abunawas.
Ada pula yang menyebut pakpak berasal dari nama orang. Alkisah, tiga   pemuda bersahabat karib bertolak dari Singkil. Nama mereka adalah si Gayo, si Karo, dan si Pakpak. Pemuda Gayo melangkah mengikuti sungai Kali Alas. Ia tiba di tanah Gayo. Melanjut ke Kutacane dia dan mentap selamanya. Pemuda Karo mengikuti Lae Ulun dan tiba di tanah Karo. Di sana ia tinggal permanen. Adapun pemuda Pakpak, ia mengikuti Lae Renun dan sampai di Pegagan Hilir. Di sana ia bergabung dengan penduduk asli dan membentuk perkampungan. Seperti kedua sobatnya ia pun menjadi migran yang berdiam menetap. Namanya kemudian diabadikan untuk seluruh kawasan.
Sudah ada tiga tafsir tentang muasal kata pakpak  Lantas orang Pakpak sendiri dari mana berasal? Seperti halnya asal-usul seluruh etnik atau sub-etnik lain di Republik ini, yang satu ini pun belum jelas betul. Aneka macam versinya. Secara umum, sejak zaman Belanda, oleh para etnolog orang Pakpak digolongkan ke dalam etnik Batak. Jadi sama seperti  orang Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Angkola. Adanya sejumlah unsur kedekatan atau kesamaan misalnya dalam struktur sosial, sistem budaya, dan bahasa puak ini satu sama lain menjadi dasar penggolongan Uli Kozok  misalnya, menyatakan keenam puak ini memiliki bahasa yang satu sama lain banyak kesamaannya. Merujuk para ahli bahasa ia menyebut bahasa Angkola, Mandailing, dan Toba membentuk rumpun selatan; sedangkan bahasa Karo dan Pakpak-Dairi termasuk rumpun utara. Ihwal Bahasa Simalungun ada dua pendapat. Berdiri di antara rumpun utara dan selatan, begitu satu pendapat. Merupakan cabang dari rumpun selatan yang kemudian terpisah sebelum bahasa Toba dan bahasa Angkola-Mandailing terbentuk, kata pendapat lain.
Pernyataan bahwa Pakpak bukan Batak sangatlah jelas, terlepas dari sejumlah unsur kesamaan tadi. Menurut pemegang pendapat ini (umumnya mereka orang Pakpak) sebagai etnik Pakpak lebih tua dari Toba yang selama ini mengkleim sebagai leluhur segenap puak Batak. Diskleim senada tadinya cuma dari Mandailing. Belakangan orang Karo dan Simalungun pun  kian banyak menyangkal diri Batak. Lama-lama bisa Toba belaka yang menyebut diri Batak. Tentu para etnologlah yang  punya otoritas untuk menimbang kebenaran kleim atau diskleim ini.
Mereka yang menyatakan Pakpak lebih tua dari Toba merujuk pada folklor lokal dan benda-benda budaya dari zaman Hindu (di antaranya  mejan patung orang menunggang gajah atau harimau, terbuat dari batu) yang sampai kini bisa ditemukan di tanah Pakpak untuk menguatkan argumennya.
Kendati tak tak memiliki mitologi lengkap yang mencakup ihwal penciptaan dunia dan manusia pertama, orang Pakpak  mempunyai folklor tentang lintasan peradabannya. Menurut folklor ini Pakpak mengenal lima zaman yakni Similangilang, Sintuara, Sihaji, Hindu, dan Pemimpin. Keterangannya berikut ini
  • ü  Zaman Similangilang Pada masa ini orang belum tinggal menetap atau masih nomaden. Berburu binatang merupakan pekerjaan utama mereka.
  • ü  Zaman Sintuara Mereka sudah mulai bermukim tapi kerap berpindah. Kalau ada anggota kelompok yang meninggal mereka akan berpindah sebab kematian dianggap kesialan yang harus dihindari
  • ü  Zaman Sihaji. Seperti masa sekarang, di masa ini kelompok sudah menetap secara permanen di satu tempat. Mereka sudah mulai berdagang tapi belum menggunakan mata uang. Jadi masih berbarter. Mitra dagang mereka termasuk orang asing (Portugis, Mesir, dan India). Berbagai barang dari luar negeri sudah masuk di antaranya  koden loyang (periuk),  kalakati  (alat pengupas pinang),  sulapah  tempat sirih),  pinggan pasu  (piring pinggan),  gabus (ikat pinggang), dan borgot.
  • ü  Zaman Hindu Ini sezaman dengan kerajaan Sriwijaya. Berarti abad ke-6 sampai ke-12.
  • ü  Awal mula Sejak Islam merebak di tanah Pakpak.

Kepastian folklor ini mengandung kebenaran faktual memang benar orang Pakpak lebih tua dari orang Toba. Jalan pikirannya, bandingkanlah folklor kedua puak. Menurut tambo orang Toba, manusia Batak pertama adalah Si Raja Batak. Segenap orang Batak sekarang adalah keturunannya. Dari Si Raja Batak hingga angkatan kanak-kanak Toba sekarang paling ada belasan generasi. Satu generasi katakanlah 70 tahun. Jadi  masa sejak Si Raja Batak hingga masa sekarang baru paling 1.500 tahun (asumsinya orang Toba telah 20 generasi lebih). Berarti baru setara era Hindu menurut folklor Pakpak tadi Masih jauh dari zaman Similangilang Begitulah kalau kita membandingkan folklor. Masalahnya, folklor tidak bisa dijadikan penakar tahun. Namanya juga cerita rakyat atau sahibul hikayat berbiaknya dari mulut ke mulut.
Jejak kebudayaan Hindu sampai sekarang masih tampak jelas di tanah Pakpak.  Mejan salah satunya. Lainnya adalah benda yang tadi disebut dari zaman Sihaji koden Loyang sulapahpinggan pasu gabus dan borgot  Jejak ini menjadi pertanda bahwa sebagai etnik Pakpak memang sudah tua.
Tanah Pakpak memang sejak lama berada dalam medan pengaruh pelbagai kebudayaan besar. Kedekatannya dengan Aceh dan Barus menjadi penyebabnya. Setelah Hindu, kebudayaan Islam dan Kristen merembes deras ke kawasan ini.
Islam sudah lama hadir di tanah Pakpak. Kemungkin besar imbas dari; kebertetanggaannya dengan Aceh di utara dan Barus di selatan. Orang Pakpak yang pertama mendalami Islam secara intens adalah. Sjech Abdurrauf al-Singkili. Dia pernah belajar agama di Pasai (Aceh) dan tanah Arab. Namun pengislaman secara serius dan sistematis barulah oleh Tengku Telaga Mekar dari Gayo Pengikutnya menjadi unsur pasukan Slimin yang berjuang melawan Belanda kelak. Gelombang pengislaman berikutnya mengalun di masa Guru Gindo  Sekitar tahun 1926 sang guru bertolak dari kampungnya di Sumatera Barat untuk mengembangkan siar Islam. Lewat Singkil dan Runding akhirnya ia tiba Sidikalang Di ibukota ini sejumlah  berhasil ia Islam-kan termasuk dari marga Angkat Bintang dan Ujung dan marga lainnya.
(dari berbagai sumber dan dairi dalam kilatan sejarah )













Tidak ada komentar:

Posting Komentar